Di masa awal dakwah Islam, permusuhan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad ﷺ begitu keras. Di antara keluarga besar Quraisy, terdapat Bani Nawfal. Dari kabilah inilah lahir seorang tokoh terpandang bernama Jubair bin Mut’im.
Jubair adalah putra dari Mut'im bin 'Adi — seorang pembesar Quraisy yang dikenal berwibawa dan disegani. Meski belum beriman, Mut’im memiliki sifat kesatria dan menjunjung tinggi kehormatan.
Perlindungan Setelah Peristiwa Thaif
Ketika Rasulullah ﷺ kembali dari perjalanan dakwah yang sangat menyakitkan di Taif, beliau diusir, dilempari batu, dan ditolak dengan kasar. Dalam kondisi terluka dan sedih, beliau hendak kembali ke Makkah.
Namun saat itu situasi di Makkah sangat berbahaya. Beliau tidak bisa masuk begitu saja tanpa jaminan perlindungan dari tokoh Quraisy.
Beberapa orang dimintai perlindungan, namun menolak. Hingga akhirnya Mut’im bin ‘Adi menerima permintaan tersebut.
Dengan penuh wibawa, Mut’im memerintahkan anak-anaknya untuk bersenjata lengkap mengawal Rasulullah ﷺ memasuki Makkah. Ia berdiri di dekat Ka’bah dan mengumumkan bahwa Muhammad berada dalam perlindungannya.
Orang-orang Quraisy tidak berani mengusik.
Bayangkan, ia belum beriman, tetapi ia membela kehormatan dan menepati tradisi perlindungan. Itu adalah sikap ksatria.
Bahkan setelah Perang Badar, Rasulullah ﷺ pernah mengenang kebaikan Mut’im. Beliau bersabda bahwa seandainya Mut’im masih hidup dan meminta pembebasan tawanan Badar, niscaya beliau akan memberikannya sebagai penghormatan atas jasanya.
Jubair: Dari Permusuhan Menuju Iman
Meski ayahnya pernah melindungi Nabi ﷺ, Jubair sendiri termasuk yang memusuhi Islam. Dalam Perang Badar, ia berada di pihak Quraisy. Ayahnya terbunuh dalam perang itu, membuat kebencian di hatinya semakin dalam.
Namun takdir Allah berjalan indah.
Beberapa waktu kemudian, Jubair datang ke Madinah untuk urusan tawanan perang. Saat itu ia masih musyrik.
Ketika Rasulullah ﷺ memimpin shalat Maghrib, Jubair berdiri mendengarkan. Lalu terdengarlah bacaan dari Surah At-Tur:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun? Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?
Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini.”
(QS. At-Tur: 35–36)
Ayat itu menembus hatinya.
Ia berkata,
“Hampir saja hatiku melayang ketika mendengarnya.”
Pertanyaan itu begitu sederhana namun mematahkan kesombongan:
Jika bukan Allah yang menciptakan, siapa?
Apakah manusia menciptakan dirinya sendiri?
Apakah langit dan bumi tercipta tanpa kehendak?
Logika yang bersih.
Akal yang tak bisa berdalih.
Saat itu, benih iman mulai tumbuh dalam dirinya. Kebencian yang dulu membara perlahan mencair. Tidak lama kemudian, ia masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi ﷺ.
Indahnya Takdir
Menariknya, seakan-akan Allah menjaga kehormatan keluarga ini:
Sang ayah melindungi Nabi sebelum beriman.
Sang anak akhirnya beriman karena mendengar ayat Al-Qur’an.
Kebaikan ayahnya tidak sia-sia dalam sejarah.
Dan hidayah anaknya menjadi penutup yang indah.
Pelajaran Untuk Kita
Hidayah bisa datang kapan saja, bahkan kepada orang yang sebelumnya paling keras menentang.
Kebaikan, meski dilakukan oleh orang yang belum beriman, tetap dicatat dan dihargai.
Al-Qur’an mampu mengguncang hati hanya dengan satu pertanyaan.
MasyaAllah, Mbah Muslim… QS At-Tur memang luar biasa. Tidak heran jika banyak hati luluh hanya karena mendengarnya.
Sedekah shubuh atasi berbagai masalah hidup
bisa ke Rek berikut:
1. Bank BSI no rek 7212000978 (infak)
2. Bank BSI no rek 7212000986 (zakat)
an. LAZNAS DEWAN DAKWAH SAHABAT UMAT
📞 Layanan jemput donasi Mbah Muslim: 085647823581
Mbah muslim
Laznas dewan dakwah sahabat umat