Tantangan Umat di Jaman kebohongan

Oleh Dr Adian Husaini

Ketum Dewan Dakwah islamiyah indonesia


Rasulullah ﷺ pernah memberikan peringatan tentang datangnya suatu masa penuh kebingungan dan kebohongan. Dalam hadis riwayat Imam Hakim disebutkan bahwa akan datang tahun-tahun yang dipenuhi dusta: orang jujur dianggap pembohong, pembohong dianggap jujur, pengkhianat dipercaya, sementara orang amanah justru dicurigai. Bahkan, urusan masyarakat akan dipegang oleh “al-Ruwaibidhah”, yakni orang-orang bodoh yang berbicara dan mengatur kepentingan publik.

Apakah zaman itu sudah tiba? Wallahu a’lam. Namun, yang jelas, hari ini kita hidup dalam apa yang disebut sebagai era post-truth—zaman ketika kebenaran tidak lagi menjadi pijakan utama. Istilah ini semakin populer setelah dipilih oleh Oxford Dictionary sebagai “Word of the Year 2016”. Post-truth menggambarkan kondisi ketika opini publik lebih dipengaruhi oleh emosi dan keyakinan pribadi daripada fakta objektif.

Di masa ini, informasi sering diterima bukan karena kebenarannya, melainkan karena mampu menggugah perasaan. Proses verifikasi atau klarifikasi tidak lagi menjadi prioritas. Kebohongan yang dikemas rapi dan disebarkan secara masif dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar. Pengulangan dan orkestrasi informasi mampu membentuk persepsi kolektif, meski bertentangan dengan fakta.

Akibatnya, masyarakat menjadi mudah tergerak oleh sentimen emosional. Data dan bukti yang sahih kalah oleh narasi yang sensasional. Inilah yang kemudian disebut oleh Prof. Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise (2017) sebagai “matinya kepakaran.” Otoritas ilmiah melemah. Opini bercampur aduk tanpa standar yang jelas. Semua orang merasa berhak berbicara tentang segala hal, tanpa mempertimbangkan kompetensi.

Nichols menyoroti fenomena di Amerika Serikat, di mana masyarakatnya—menurut beliau—mulai meremehkan para ahli. Di tengah kebebasan informasi, bukan hanya pakar yang didengar, tetapi juga selebritas, tokoh populer, bahkan penganut teori konspirasi. Ironisnya, suara mereka kadang lebih dipercaya daripada para ilmuwan atau akademisi yang berkompeten.

Lebih memprihatinkan lagi, ketidaktahuan justru dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan, terutama dalam isu-isu publik. Kondisi ini tentu berbahaya, sebab masyarakat yang tidak lagi menghormati ilmu dan otoritas kepakaran akan mudah terseret arus kesesatan berpikir.

Fenomena ini sejatinya telah lama diingatkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sejak tahun 1970-an. Beliau menyebutnya sebagai loss of adab—hilangnya adab. Adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya menurut ketentuan Allah. Hilangnya adab melahirkan kerancuan ilmu (confusion of knowledge).

Ketika masyarakat tidak mampu membedakan mana ahli yang layak dijadikan rujukan dan mana yang bukan, maka terjadilah kekacauan intelektual. Setiap bidang ilmu memiliki otoritasnya masing-masing. Jika otoritas itu dilemahkan atau dirusak, maka rusak pula bangunan ilmu, dan pada akhirnya rusak pula cara berpikir masyarakat.

Dampaknya tidak hanya terasa dalam diskursus ilmiah, tetapi merembet ke berbagai aspek kehidupan. Dalam rumah tangga, peran dan tanggung jawab menjadi kabur. Di sekolah dan kampus, pendidikan kehilangan arah karena para pemimpin tidak memahami tujuan mendidik manusia secara utuh. Bahkan negara pun bisa mengalami kekacauan jika pemimpinnya tidak memahami prinsip keadilan dan kemaslahatan menurut syariat.

Solusi yang ditawarkan Islam sangat jelas: kembalikan segala sesuatu kepada ilmu yang benar dan tegakkan adab. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 7 agar kita bertanya kepada ahli ilmu jika tidak mengetahui. Nabi Muhammad ﷺ juga menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, serta mengajarkan doa agar diberi ilmu yang bermanfaat.

Ilmu yang benar—yang dipahami, diamalkan, dan diajarkan—akan melahirkan masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Ketika adab ditegakkan, keadilan pun terwujud. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Kekayaan, popularitas, dan jabatan tidak menjadi ukuran kemuliaan jika tidak disertai ketakwaan.

Sekolah dan kampus, bagi seorang muslim, seharusnya menjadi tempat membangun peradaban yang luhur. Pendidikan tidak sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi sesama.

Era post-truth, dengan derasnya arus kebohongan dan kekacauan informasi, adalah ujian besar bagi keimanan. Karena masalahnya adalah problem ilmu, maka penyelesaiannya pun harus ilmiah—dengan sikap cerdas, kritis, dan bijaksana.

Di masa seperti ini, umat sangat membutuhkan ilmu yang benar dan hikmah dalam menyikapi segala sesuatu.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Sedekah shubuh untuk Sahur para santri penghafal quran di ponpes Nurul Ummah bisa ke Rek berikut:

1. Bank BSI no rek 7212000978 (infak)

2. ⁠Bank BSI no rek 7212000986 (zakat)

an. LAZNAS DEWAN DAKWAH SAHABAT UMAT


📞 Layanan jemput donasi Mbah Muslim: 085647823581